Pop Pengajian

Waktu kecil dulu saya sering diajak nenek kalau ada pengajian di alun-alun kabupaten. Sebulan sekali mungkin, naik truk bak terbuka. Kami biasa menunggu 1 -2 jam sebelum ‘Pak Kyai’ naik mimbar,duduk di gelaran tikar sambil berjemur matahari pagi.
Dulu bapak saya sering terkantuk-kantuk didepan TV hitam putihnya, menunggu acara Mimbar agama Islam di stasiun TV satu-satunya di Indonesia. Baru hilang kantuknya ketika acara mulai dan tertidur kembali di tengah acara karena “khusyuk dan sejuknya” penyampaian sang ustadz.

Sekarang kebutuhan rohani kita gampang terpenuhi. TV banyak menyiarkan pengajian. Masing-masing stasiun punya kemasan sendiri. Penyampaian sang ustadznya juga macam-macam. Pake magic word segala. Bahkan kolaborasi sama penyanyi dan pelawak, meskipun belum ada kolaborasi magician atau pesulap. Yang saya rasakan (mungkin subyektif) ialah nuansa show. Tidak semua tentunya. Tapi banyak ustadz yang tampak ingin pamer kebolehan, terlalu sadar ditonton, terlalu menampilkan gaya dan watak pengajian yang diperuntukkan bagi khalayak di mana seorang ustadz exist.

Saya tidak berhak tentunya mengklaim mereka kurang lillahi ta’ala. Tetapi paling tidak ketika mendengar ceramah semacam itu, saya kurang merasa dirangsang untuk memasuki suatu wilayah keihklasan religius maupun keilmuan.

Di depan suatu show pengajian, yang saya rasakan adalah getaran kejiwaan sekularis kapitalistik. Mendengar ceramah para “da’I kontemporer” ini seperti sedang menyantap fast food di restoran yang nyaman dan serba bersih. Karena sekarang, memproduksi da’I seperti memproduksi ayam goreng, mesti cepat, menarik, enak, renyah dan bisa di dapat di mana-mana.

Wallahu ta’ala a’lam

Mutiara Renungan:
“Kalian berada di zaman di mana ulama yang berpengetahuan banyak, tetapi sedikit para penceramah. Namun sesudah itu akan ada zaman di mana ulama sedikit dan penceramah itu banyak”. (Perkataan Ibnu Mas’ud kepada murid-muridnya, yang dinukil Imam Ibnu Hajar Al Asqolani)

Lezatnya Perjuangan

Tujuan dicapai dengan perjalanan. Cita-cita diraih dengan perjuangan. Pelangi diawali oleh tetesan hujan. Akibat lahir dari rahim sebab. Demikianlah ketentuan Allah yang berlakukan di bumi tempat para hamba-Nya berpijak.

Banyak orang menilai bahwa kenikmatan itu adanya pada saat tercapainya tujuan, sedangkan usaha dan perjuangan menuju tujuan merupakan fase kesulitan dan kesengsaraan. Namun orang-orang terpilih justru menjadikan kenikmatan pada proses perjuangan, dan tercapainya tujuan hanyalah merupakan kelanjutan dari kenikmatan tersebut. Kenikmatan di atas kenikmatan. It’s not the destination it’s the journey, ini bukan tentang tujuan melainkan perjalanan, demikian slogan Harley Davidson.

Dalam sebuah syair hikmah yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syāfi’i disebutkan:
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّن تُفَارِقه
           وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِي النَّصبِ
Pergilah niscaya kau akan dapatkan ganti dari yang kau tinggalkan,
          berjuanglah keras sebab kelezatan hidup itu ada dalam kepayahan.

Dari Abū Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda,
وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَأُقْتَلَ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلَ ثُمَّ أَغْزُوَ فَأُقْتَلَ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya. Sungguh, aku ingin berperang di jalan Allah lantas terbunuh, kemudian aku berperang lantas terbunuh lagi, kemudian aku berperang lantas terbunuh lagi.” [Riwayat Muslim III/1495/1876.]

Dari Anas ibn Mālik, Nabi s.a.w. juga bersabda,
مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَسُرُّهُ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا غَيْر الشَّهِيْدِ فَإِنَّهُ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا، يَقُوْلُ: حَتَّى أُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ، مِمَّا يَرَى مِمَّا أعْطَاهُ مِنَ الْكَرَامَةِ
“Tidaklah seorang pun dari kalangan penduduk surga senang untuk kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin kembali ke dunia, seraya berkata, ‘Hingga aku terbunuh sepuluh kali di jalan Allah!’ Ini karena ia melihat sebagian kemuliaan yang diberikan kepadanya.” [Riwayat al-Bukhāri III/1037/2662, at-Tirmidzi IV/187/1661, dan lain-lain. Redaksi di atas adalah dari riwayat at-Tirmidzi.]

Dari hadits di atas kiranya dapat dipahami bahwa kenikmatan itu bukan hanya didapat dari ganjaran setelah mati syahid, namun pada proses menuju kesyahidan, berupa perang, luka dan kematian juga terdapat kenikmatan yang tak terlukiskan.

Hal ini juga disinyalir oleh sebuah surah al-Qur’an yang sering dibaca dan dihapalkan oleh kaum Muslim pada umumnya, yaitu firman Allah Ta`ālā:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ * وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ * ٱلَّذِيۤ أَنقَضَ ظَهْرَكَ * وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ * فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْراً * فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ * وَإِلَىٰ رَبكَ فَٱرْغَبْ
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.” [QS. Asy-Syarh (94): 1 – 8.]

Surah tersebut dimulai dengan kondisi kelapangan dada, yang merupakan salah satu kenikmatan terbesar, dan ditutup dengan perintah untuk senantiasa bekerja secara optimal dengan dibarengi harapan kepada Allah. Dengan menggabungkan bagian awal dan akhir surah dimaksud, kiranya mungkin dapat ditarik suatu garis pemahaman bahwa kelapangan dada atau kenikmatan itu terdapat pada perjuangan atau kerja keras secara optimal.
Bagaimana pun cara pandang kita terhadap usaha dan perjuangan, apakah sebagai kenikmatan ataukah kesengsaraan, perjuangan tetaplah merupakan suatu keharusan yang apabila ditunda atau diabaikan maka akan menimbulkan keharusan yang lebih besar di kemudian hari. Seseorang yang mengabaikan kerja keras di masa muda harus membayar dengan kerja lebih keras di masa tuanya. Siswa yang enggan belajar secara rutin setiap hari harus belajar lebih keras di musim ujian atau ia tidak lulus. Demikianlah rumus yang berlaku dalam kehidupan.

Copas dari: http://adniku.wordpress.com
oleh Ust Abu Faris

Wahai saudaraku…

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“ Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah telah menyediakan bagi mereka pengampunan dan pahala yang besar ”. (QS Al Ahzaab : 35)

Maka berdzikirlah kepada Allah sebanyak – banyaknya wahai saudaraku, agar Allah berikan kita pengampunan dan pahala yang besar.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Perumpamaan orang yang berdzikir (ingat) kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabb-nya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.”
(HR Al-Bukhari no. 6407, Fat-hul Baari XI/208)

Maka berdzikirlah kepada Allah wahai saudaraku, agar jiwa kita tidak mati dan hidup kita mempunyai kekuatan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada para sahabatnya:

“ Maukah kamu aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Raja-mu (Allah), paling mengangkat derajatmu, lebih baik bagimu dari pada menginfakkan emas dan perak, lebih baik bagimu daripada kamu bertemu musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata: “Mau (wahai Rasulullah).” Beliau bersabda, “Berdzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi.”
(HR. At-Tirmizi no. 3377, Ibnu Majah no. 3790 dan di shahihkan Al-Albani di Shahih At-tirmidzi III/139 no. 2688 dan Shahih Ibnu Majah II/316 no. 3057 dari sahabat Abu Darda)

Maka berdzikirlah kepada Allah wahai saudaraku, karena belum tentu kita bisa berinfak dengan emas dan perak, dan belum tentu kita berkesempatan untuk berperang menghadapi musuh apalagi mati karenanya.

Berdzikirlah kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit, di waktu pagi maupun petang, di saat diam atau bergerak. Berdzikirlah kepada Allah dalam setiap keadaan, karena sesungguhnya itu adalah sebaik-baik amal perbuatan.

Pelajaran Dari Luqman

Siapakah Luqman, sehingga namanya dijadikan sebagai salah satu nama surat dan penggalan kisah hidupnya diabadikan di dalam Al-Qur’an Al-Karim?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau adalah hamba Allah yang saleh tanpa menerima kenabian.
Menurut Ibnu Abbas, Luqman adalah seorang hamba berkebangsaan Habsyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sementara Jabir bin Abdullah mengidentifikasi Luqman sebagai orang yang bertubuh pendek dan berhidung pesek. Continue reading ‘Pelajaran Dari Luqman’

Hati Yang Sehat

Hati yang sehat yaitu hati yang terjaga dari syirik, sifat dengki, iri, kikir, takabur, cinta dunia dan jabatan. Ia terbebas dari semua penyakit yang akan menjauhkan dari Allah. Ia selamat dari setiap syubhat yang menghadangnya. Ia terhindar dari intaian syahwat yang menentang jati dirinya. dan ia terbebas dari segala keinginan yang akan menyesaki tujuannya. Ia terbebas dari segala penghambat yang akan menghalanginya dari jalan Allah. Demikian inilah hati yang sehat di surga dunia dan di surga alam kubur, serta surga di hari kiamat.

Keselamatannya tidak akan terwujud, kecuali dengan terjaga dari lima perkara. (Yaitu) dari syirik yang bertentangan dengan tauhid, dari bid’ah yang berhadapan dengan sunnah, dari syahwat yang menghambat urusannya, dan dari ghaflah (kelalaian) yang menghilangkan dzikir kepada Allah, dari hawa nafsu yang akan menghalangi ikhlas.

Lima hal ini, menjadi penutup jalan menuju Allah. Masing-masing perkara tersebut mempunyai banyak pengaruh yang tidak berbilang.

( Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, Al Jawabul Kafi 1/176)

Tingkatan ‘Ilmu

Pengetahuan, menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala, dalam kitabnya Syarhu Ushul Ats Tsalatsah, memiliki enam tingkatan.
Pertama: Al-Ilmu, yaitu pengetahuan secara pasti terhadap sesuatu sesuai dengan hakekatnya.
Kedua: Al-Jahlul Basith, yaitu tidak diketahuinya sesuatu secara keseluruhan.
Ketiga: Al-Jahlul Murakkab, yaitu pengetahuan terhadap sesuatu perkara yang berlawanan dengan hakekat sebenarnya dari sesuatu itu. Continue reading ‘Tingkatan ‘Ilmu’

Bahagia

Dalam pertemuan santai di kantor, sang MC melempar pertanyaan: Apa bahagia menurut anda?
Para hadirin spontan menanggapi. Macam-macam pendapatnya. Ada yang bilang: “kalau semua keinginan kita terpenuhi.” Yang lain menyahut: “Kalo saya banyak uang.” Lainnya: “Punya keluarga yang harmonis.” Lainnya lagi: “Punya wajah ganteng.” Walhasil tiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Continue reading ‘Bahagia’

Demonstrasi

Demonstrasi adalah salah satu dari bentuk nasehat kepada pemerintah, agar para pejabat pemerintah bekerja pada rel yang benar, tidak zalim kepada rakyat dan mau mendengar kepentingan rakyatnya, bukan kepentingan pribadi atau golongannya saja.

Itu kurang lebih jawaban seorang teman yang juga aktivis salah satu partai ketika saya tanya kenapa ia begitu bersemangat, sampai ambil cuti kerja untuk ikut unjuk rasa. Benarkah demonstrasi/unjuk rasa itu salah satu bentuk nasehat? Apakah nasehat boleh dengan mencela apalagi membuka aib yang dinasehati?
Sebagian orang tidak bisa membedakan antara mencela dan menyingkap aib orang lain dengan memberi nasehat. Seringkali keinginan untuk memberi nasehat berubah menjadi penistaan dan penodaan Continue reading ‘Demonstrasi’

OXBRIDGE & MADINAH (Memikirkan Ulang Cara Kita Memandang Sekolah)

Pendidikan adalah hal yang sangat penting di zaman sekarang ini, terutama bagi anak-anak kita. Sedemikian pentingnya, Pemerintah kita juga membuat program pendidikan gratis bagi anak usia sekolah. Di sisi lain banyak bermunculan sekolah-sekolah swasta dengan tawaran program yang menarik, seolah-olah mereka adalah mesin pencetak orang sukses, tentunya dengan biaya yang mahal. Para orang tuapun memilihkan sekolah bagi anak-anaknya sesuai impian mereka terhadap anak-anaknya kelak dan tentu sesuai dengan uang di kantong mereka. Baik sekolah yang gratis maupun yang berbiaya sangat mahal, tentu kebanyakan mereka, para orang tua punya harapan yang sama: kelak anaknya bisa jadi “orang”.
Benarkah demikian? Tulisan ini saya kutip dari Majalah Hidayatullah edisi Juli 2006, ditulis oleh Dzikrullah, seorang wartawan dan guru madrasah. Beliau mencoba mengkritisi pandangan kebanyakan kita, para orang tua terhadap sekolah/pendidikan anak-anak kita.

Oxford dan Cambridge adalah simbol penting pendidikan di Inggris. Kotanya cantik dengan sungai dan taman-taman yang luas diselingi colleges yang menjadi jantung utama kedua kota itu. Bangunan asrama , gedung universitas dan kapel-kapel (gereja kecil) dari abad ke-13 sebagian masih bisa dilihat sampai sekarang, diperkaya bangunan-bangunan berdesain ultra-modern. Biasa disebut jadi satu sebagai Oxbridge, kedua kota ini menjadi pusat riset ilmu dan teknologi penyangga peradaban Inggris dari abad ke abad. Banyak peraih penghargaan Nobel beralmamater di kedua kota ini.

Madinah merupakan kota pendidikan yang lebih dahsyat dari dari Oxford dan Cambridge. Bukan karena fasilitasnya. Tetapi karena pendidikan di Madinah menghasilkan peradaban ilmu yang menyatukan iman, ilmu, amal dan jihad. Continue reading ‘OXBRIDGE & MADINAH (Memikirkan Ulang Cara Kita Memandang Sekolah)’

Surat Hasan Al-Bashri Kepada Umar bin Abdul Aziz

“ Saya akan menggambarkan kepada Anda, bahwa dunia ini adalah satu masa diantara dua masa yang lain. Satu masa yang telah lampau, satu masa yang akan datang, dan satu masa lagi saat di mana Anda hidup sekarang ini. Adapun masa lampau dan masa yang akan datang, tidaklah memiliki kenikmatan dan juga tidak ada rasa sakit yang bisa dirasakan sekarang ini. Tinggallah dunia ini di mana Anda hidup sekarang ini. Saat itulah yang kerap memperdaya Anda sehingga lupa dengan akhirat dan perjalanan yang bisa menghantarkan Anda ke Neraka. Continue reading ‘Surat Hasan Al-Bashri Kepada Umar bin Abdul Aziz’

Halaman Berikutnya »


 

Januari 2012
S S R K J S M
« Des    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

https://www.dealkeren.com/jakarta/invitation/?s=ef296fcf74a3413c127b106f7c76c609

Tazkiya Herbal

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN DAN PERHATIANNYA


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.